Generator arus bolak balik (AC) adalah generator yang berfungsi mengubah tenaga mekanis menjadi tenaga listrik arus bolak balik (AC). Sering juga disebut alternating. Umumnya generator AC dibagi atas dua jenis yaitu :
- Generator Sinkron
- Generator Asinkron
|
|
|
|
Gambar 1. Generator Sinkron |
Gambar 2. Generator Asinkron |
Pada bagian
kali ini Kita akan membahas mengenai Generator Sinkron atau juga disebut dengan
Synchronous generator. Generator
Sinkron adalah sumber utama dari seluruh energi listrik yang kita gunakan.
Mesin ini adalah mesin terbesar di dunia yang mengubah energi mekanik menjadi
energi listrik dengan daya mencapai 1500 MW. Disebut
dengan generator sinkron karena jumlah putarannya sinkron atau
sama dengan jumlah frekuensinya. Misalnya jika jumlah f = 100 Hz
maka jumlah putarannya 100 x perdetik atau 100x60=6000
putaran permenit, sehingga disebut mesin sinkron. Generator
sinkron terdiri dari dua jenis, yaitu generator sinkron AC tiga fasa
yang sering digunakan pada pembangkit dengan kapasitas besar atau
generator sinkron AC satu fasa untuk kapsitas kecil.
A.
Stator
atau armatur
adalah bagian dari mesin yang tidak bergerak dan berfungsi sebagai tempat untuk
menerima induksi magnet dari rotor. Arus AC yang menuju ke beban disalurkan
melalui armatur yang berbentuk sebuah rangka silinder dengan lilitan kawat
konduktor yang sangat banyak. Stator terbuat dari bahan ferromagnetic yang berbentuk laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar.
Gambar 3. Generator Sinkron dengan daya 500 MVA
Stator generator Sinkron
terdiri dari berberapa bagian :
1. Inti Stator yang
berbentuk cincin laminasi yang diikat serapat mungkin untuk menghindari
rugi-rugi arus eddy (eddy current).
Pada inti Stator terdapat slot-slot yang berfungsi untuk menempatkan konduktor
dan mengatur arah medan magnetnya. Untuk mencegah arus pusar dan panas yang
timbul, maka inti stator terbuat dari lempengan baja tipis yang terisolasi satu
sama lain.
Gambar 4. Inti Stator
2. Belitan Stator adalah bagian yang terdiri dari berberapa batang konduktor yang terdapat pada slot-slot dan ujung-ujung kumparan. Masing-masing slot harus dihubungkan agar memperoleh tegangan induksi.
Gambar 5. Belitan Stator
3. Alur Stator adalah
bagian stator yang berfungsi sebagai tempat belitan stator ditempatkan
Gambar 6. Alur Stator
4. Rumah
Stator adalah
bagian stator yang berbentuk silinder dan umumnya terbuat dari besi tuang.
Bagian belakang dari rumah stator terdapat
sirip-sirip untuk alat bantu dalam proses pendinginan.
Gambar 7. Rumah Stator
B. Rotor adalah bagian generator sinkron
yang berputar atau bergerak. Rotor berfungsi untuk membangkitkan medan magnet yang
akan menghasilkan tegangan dan selanjutnya akan diinduksikan ke stator. Antara
rotor dan stator dipisahkan oleh celah udara (air gap) yang berfungsi untuk menurunkan suhu pada generator.
Gambar 8. Rotor salient (kutub sepatu) pada
generator sinkron
Rotor terdiri dari dua bagian umum, yaitu:
1. Slip
ring adalah cincin
logam yang melinngkari poros rotor yang dipisahkan oleh isolator tertentu. erminal
kumparan rotor dipasangkan ke slipring ini kemudian dihubungkan ke sumber arus
searah melalui sikat (brush)yang letaknya menempel pada slip ring.
2. Kumparan
Rotor (Kumparan Medan) adalah
bagian yang berfungsi untuk menghasilkan medan magnet. Kumparan mendapatkan
arus searah dari sumber eksitasi tertentu.
3. Poros
Rotor adalah
tempat kumparan medan, di mana pada poros rotor tersebut telah terbentuk
slot-slot secara parallel terhapad poros rotor.
Gambar 9. Poros Rotor
4. Kutub,
terdiri dari 2
jenis yaitu :
Gambar 10. Poros Rotor
a. Kutub Menonjol (salient
pole) untuk generator dengan kecepatan medium dan rendah.
Pada Kutub menonjol Belitan medan
dililitkan pada badan kutub, pada sepatu kutub jugadipasang belitan peredam
(danryer winiling). Belitan kutub dari tembaga,badan kutub dan sepatu kutub
dari besi lunak.
b. Kutub Silinder untuk
generator dengan kecepatan tinggi terdiri dari alur-alur yang dipasang kumparan
medan juga ada gigi-gigi. Alur dan gigi tersebut terbagi atas pasangan-pasangan
kutub.
5. Belitan
Jangkar yang terdapat pada stator yang disebut juga belitan stator di rangkai
untuk hubungan tiga fasa yang terdiri dari :
a. Belitan
satu lapis (single layer winding), yang
terdiri atas dua macam:
§ Mata
Rantai (concentris or chain winding)
§ Gelombang (wave)
b. Belitan
dua lapis (double layer winding),
yang terdiri juga dua macam :
§ Jenis
gelombang (wave)
§ Jenis
gelung (lap)
Gambar
11. Rangkaian belitan jangkar
di stator Mesin Sinkron
(a). Konsentris atau spiral
(b). Gelung (lap)
(c). Gelombang(wave)
C. Eksitasi adalah sistem pasokan
listrik DC sebagai penguatan pada generator atau sebagai pembangkit medan
magnet sehingga suatu generator dapat menghasilkan energi listrik. Magnet adalah
komponen utama dari rotor pada sebuah generator. Magnet dapat berupa magnet
permanen maupun magnet yang dibangkitkan dengan kumparan. Untuk generator yang
menggunakan magnet buatan, maka diperlukan arus listrik yang mengalir ke
kumparan tersebut. Proses dari pembangkit medan magnet secara buatan pada
generator inilah yang disebut dengann proses Eksitasi.
Gambar 12. Generator dengan eksitasi
Pada
generator dengan sistem eksitasi, berlaku:
èBesar tegangan listrik yang
dihasilkan oleh generator = besar medan magnet di dalamnya.
èSedangkan, besar medan magnet di
dalamnya = arus eksitasi yang dibangkitkan.
èDapat disimpulkan bahwa tegangan
yang dihasilkan oleh generator dipengaruhi oleh arus eksitasi yang dibangkitkan pada magnet.
Jika
arus eksitasi sama dengan nol, maka tegangan listrik generator juga sama dengan
nol. Atas dasar inilah sistem eksitasi dapat disebut dengan sistem amplifier, karena sejumlah kecil dapat
mengontrol sejumlah daya yang lebih besar. Prinsip inilah yang digunakan untuk
mengontrol tegangan keluaran generator. Jika
tegangan sistem turun maka arus eksitasi harus ditambah, dan jika tegangan
sistem terlalu tinggi maka arus eksitasi dapat diturunkan.
Secara
umum sistem eksitasi terbagi menjadi
dua, yaitu :
a. Sistem
Eksitasi Berputar
adalah sistem eksitasi yang membangkitkan arus listrik
DC dengan menggunakan semacam generator berukuran kecil yang ikut berputar
dengan generator utama. Ada dua macam sistem eksitasi berputar, yaitu:
1. Tipe yang menggunakan brush (sikat). Tipe
klasik ini memerlukan komponen slip-ring untuk menghubungkan
arus yang dibangkitkan oleh sistem
eksitasi dengan rotor generator. Sehingga tipe ini
memerlukan perawatan yang berjangka.
2. Tipe brushless. Tipe ini
lebih modern karena sistem eksitasi berada
satu poros dengan generator utama. Supply arus dari sistem eksitasi kumparan
magnet generator dihubungkan dengan plat dioda.
b. Sistem Eksitasi Statis adalah
sistem eksitasi yang tidak menggunakan generator kecil sebagai pembangkit arus
DC untuk generatorn utamanya. Melainkan
menggunakan arus listrik yang keluar dari generator yang “disearahkan” menjadi
DC dan kemudian dialirkan menuju rotor generator utama.
Gambar 13. Tipe sikat pada Sistem Eksitasi Generator Sinkron
Jarak
antara sisi belitan dan cara meletakan belitan pada alur/slot akan menimbulkan
factor kisar atau factor gawang (factor
pitch) dan factor distribusi (distribution
factor). Berikut penjelasan mengenai faktor Kisar dan faktor Distribusi.
D.
Faktor
kisar atau factor
gawang (factor pitch)
Apabila kisar atau gawang antara sisi lilitan yang
satu dan sisi lilitan yang lain sama dengan jarak antara kutub magnet yaitu 1800
listrik, maka lilitan tersebut dikatakan mempunyai gawang penuh atau kisar
penuh.
Gambar 14. Kisar atau lilitan jangkar
Apabila jarak antara sisi lilitan yang satu dengan
sisi lilitan yang lainnya kurang dari 1800 listrik, maka lilitan
tersebut disebut memiliki kisar pendek (gawang pendek).
Faktor kisar atau faktor gawang (factor pitch) atau Kc atau Kp merupakan
perbandingan antara kisar pendek dengan kisar penuh, dengan persamaan sebagai
berikut :
E.
Faktor
distribusi
Lilitan jangkar pada setiap fasa tidak dapat
dipusatkan hanya pada satu alur/slot tetapi
didistribusikan pada berberapa alur/slot menyebabkan
suatu faktor yang disebut factor distribusi (Kd), dengan persamaan :
Dengan
m : banyaknya alur/fase/kutub
F.
Prinsip
Kerja Generator Sinkron
Generator
sinkron bekerja berdasarkan induksi elektromagnetis. Setelah rotor diputar oleh
penggerak mula (prime mover),
dengan-dengan demikian kutub-kutub yang terdapat pada rotor akan berputar. Jika
kumparan kutub diberi arus searah (DC) maka pada permukaan kutub akan timbul
medan magnet (garis-garis gaya fluks) yang beputar dengan kecepatan yang sama
dengan putaran kutub.
Garis-garis
gaya fluks yang berputar akan memotong kumparan jangkar pada stator sehingga pada
kumparan jangkar akan timbul EMF atau GGL atau tegangan induksi. Frekuensi EMF
(GGL) atau tegangan induksi tersebut memilki persamaan:
dengan P: banyaknya kutub
N:kecepatan putar (rpm).
Besarnya
tegangan induksi yang timbul pada kumparan jangkar yang ada di stator akan
mengikuti persamaan:
Eo = c.n. ɸ atau
Eo= 4,4 kc kd f ɸ
T vol fase
|
c = konstanta mesin n = kecepatan putaran (rpm) ɸ = fluks yang dihasilkan oleh If kc = faktor
kisar |
kd = faktor distribusi f = frekuensi dalam Hz atau cps Ф = fluks/ kutub dalam Weber T = banyaknya lilitan / fase =1/2 Z dengan Z adalah banyaknya sisi lilitan per fase, satu lilitan ada 2 sisi |
G. Generator sinkron Berbeban
Jika generator serempak belum berbeban maka EMF (E) yang dibangkitkan pada kumparan jangkar yang ada di stator sarna dengan tegangan terminalnya (V).
Bila generator diberi beban yang berubah-ubah maka besarnya tegangan terminal V akan berubah-ubah pula, hal ini disebabkan adanya kerugian tegangan pada:
=>Jatuh tegangan karena resistansi jangkar (Ra) sebesar (I Ra).
=>Jatuh tegangan karena reaktansi bocor jangkar (XL) sebesar (I XL).
=>Jatuh tegangan karena reaktansi jangkar (I Xa).
1. Resistansi
jangkar (Ra).
Resistansi jangkar/fasa Ra
menyebabkan terjadinya kerugian tegang/fasa (tegangan jatuh/fasa) dan I.Ra yang
sefasa dengan arus jangkar.
2. Jatuh tegangan
karena reaktansi bocor jangkar (XL).
Saat arus mengalir melalui
penghantar jangkar, sebagian fluks yang terjadi tidak mengimbas pada jalur yang
telah ditentukan, hal seperti ini disebut Fluks Bocor
3. Jatuh tegangan
karena reaksi jangkar.
adanya
arus yang mengalir pada kumparan jangkar saat generator dibebani akan
menimbulkan fluksi jangkar (ΦA) yang berintegrasi dengan fluksi yang dihasilkan pada
kumparan medan rotor(ΦF), sehingga akan dihasilkan suatu fluksi resultan
sebesar:
Reaksi jangkar disebabkan oleh arus beban (I) yang mengalir pada kumparan jangkar arus tersebut akan menimbulkan medan yang melawan medan utama sehingga seolah-olah jangkar mempunyai reaktansi sebesar Xa. Reaktansi bocor (XL) dan reaktansi karena reaksi jangkar (Xa) akan menimbulkan reaktans sikron sebesar (Xs) yang mengikuti persiamaan berikut:
Xs = XL + Xa
Hubungan
Xs dengan Isc, dan Eo
Dimana :
Ea = tegangan induksi pada jangkar
V = tegangan terminal output (Volt)
Ra = resistansi jangkar (Ω)
Xs = reaktansi sinkron (Ω)
H. Diagram generator Sinkron
Diagram vektor (diagram phasor) dari generator sinkron
terbagi menjadi 3:
1. Diagram
Vektor untuk Beban non Induktif
Dalam kasus ini vector tegangan terminal dan vector
arus sefase atau faktor kerjanya satu (unity)
Dari diagram vektor pada gambar dibawah berikut: dapat
dituliskan persamaan tegangannya sebagai berikut :
Gambar 15. Diagram vektor dari generator
sinkron
non induktif.
dapat dituliskan persamaan tegangannya sebagai berikut
:
Atau
2. Diagram
Vektor untuk Beban Induktif (lagging)
Bila generator sinkron berbeban, dimana bebannya
induktif maka vektor arus tertinggal atau mengikuti (lagging) terhadap vektor
tegangan, seperti pada gambar dibawah berikut:
Gambar 16. Diagram vektor dari generator
sinkron
yang berbeban induktif
Dari
diagram vektor pada gambar diatas dapat dituliskan persamaan tegangannya
sebagai
berikut:
3. Diagram
Vektor untuk Beban Kapasitif (leading)
Bila generator sinkron bekerja dengan beban kapasitif
dimana vektor arus akan mendahului (leading) terhadap vektor tegangan,
perhatikan gambar dibawah berikut:
Gambar 17. Diagram vektor dari generator
sinkron
yang berbeban Kapasitif
Dari gambar diagram vektor tersebut
dapat dituliskan Persamaan tegangannya sebagai berikut:
I. Regulasi
tegangan generator Sinkron
Perubahan
beban pada generator sinkron akan menyebabkan perubahan tegangan pada
terminalnya. Perubahan tersebut tidak hanya bergantung pada perubahan beban,
akan tetatapi juga bergantung pada factor beban (faktor kerja=faktor daya). Hal tersebut menyebabkan munculah
istilah regulasi tegangan yang diartikan sebagai kenaikan tegangan bila beban
penuh dilepas di mana penguatannya (eksitasi) serta kecepatannya tetap, dibagi
dengan tegangan terminal, atau dirumuskan sebagai berikut:
dengan
catatan :
1.
Eo- V bukan Pengurangan vektor
2.
untuk beban dengan faktor daya mendahului (beban kapasitif), dapat menjadi
regulasi negatif. karena tegangan terminal (V) ada kalanya lebih tinggi dari
Eo.
3.
Persariaan regulasi tegangan tersebut untuk generator serempuk yang
mempunyai
kapasitas kecil
karakteristik
tegangan generator sinkron sehubungan dengan rcgulasi tegangan tersebut dapat
di gambarkan sebagai berikut :
Gambar 18. Diagram faktor daya pada generator sinkron
J. Efisiensi generator Sinkron
Efisiensi
atau daya dari Generator sinkron dapat dihitung dengan cara yang hamper sama
dengan generator searah, yaitu :
Atau
Atau
Atau
Pada
kasus generator Sinkron dengan beban, rugi-rugi yang dialami sebagai berikut:
1.
Rugi-rugi
rotasi yang terdiri dari :
a.
Rugi
angin dan geseran.
b.
Rugi
geseftm sikat pada cincin geser
c.
Rugi
ventilasi pada waktu pendinginan mesin.
d. Rugi histerisis dan arus pusar di stator.
2.
Rugi-rugi
listrik yang terdiri dari :
a.
Rugi
pada kumparan medan.
b.
Rugi
pada kumparan jangkar,
c. Rugi pada kontak sikat.
3. Rugi eksitasi yang di pakai untuk penguatan
4.
Rugi
beban sasar (stray load loss)












Tidak ada komentar:
Posting Komentar